Feeds:
Posts
Comments

Indahnya kehidupan. Foto ilustrasi bunga di Keukenhof, Belanda

Tomorrow is full of hope

Those who educate children well are more to be honored than parents, for these gave only life, those the art of living well. (Aristotle)

Kutipan di atas begitu sangat menyentuh hati saya. Tatkala membacanya secara perlahan dan menjiwai, saya teringat dengan Bapak dan Emak saya, yang dalam segala kekurangan pengetahuan dan harta benda, namun memiliki mimpi untuk menyekolahkan saya dan kakak saya ke jenjang pendidikan tinggi. Di samping pendidikan formal, Bapak dan Emak juga memberikan pendidikan moral dan agama sebagai bekal kehidupan di masa depan bagi-anaknya sebab hari esok akan penuh dengan pengharapan.

Pendidikan itu penting, oleh karena itulah, orang tua saya menyekolahkan saya. Melalui sekolah, saya menjadi tahu dan paham berbagai ilmu dan pengetahuan. Kutipan dari Jean Jacques Rousseau berikut ini semakin memantapkan keyakinan saya bahwa pendidikan soko guru yang kuat bagi tumbuh dan berkembangnya seorang manusia. Melalui pendidikan pulalah, karakter dan cara berpikir seseorang terbentuk.

Plants are shaped by cultivation and men by education. .. We are born weak, we need strength; we are born totally unprovided, we need aid; we are born stupid, we need judgment. Everything we do not have at our birth and which we need when we are grown is given us by education.
(Jean Jacques Rousseau)

Saya perlu bersyukur dan berterima kasih bahwa saya dibesarkan di tengah keluarga yang tahu akan arti sebuah pendidikan. Berkat kegigihan Bapak dan Emak saya, saya bisa merasakan jenjang pendidikan formal dari Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Padahal jika dipikir secara logika manusia, Bapak saya yang bekerja sebagai seorang tukang sampah yang kini sudah pensiun karena faktor usia dan Emak saya yang berjualan pecel, menyekolahkan anak dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bapak dan Emak perlu memeras keringat guna mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk kebutuhan keluarga, termasuk sekolah. Hebatnya, mereka bisa.

Semangat Bapak dan Emak itu yang akan selalu menjadi inspirasi saya ketika nanti saya memiliki anak. Perjuangan mereka yang begitu sangat luar biasa telah mengantar saya menapaki jenjang-jenjang pendidikan hingga bisa menjadi bekal untuk mengarungi samudra kehidupan. Meskipun saat ini saya belum nikah, belajar dari Bapak dan Emak, saya perlu memikirkan dan merencanakan sejak dini pendidikan bagi anak-anak saya nanti. Saya bermimpi supaya anak-anak buah hati kami, bisa menikmati pendidikan yang layak sehingga mereka bisa menggapai mimpi-mimpi dan cita-cita mereka. Tomorrow is full of hope.

Dari Mimpi Menuju Strategi

Nama saya Winarto. Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya memiliki orang tua yang sangat luar biasa. Mereka tidak saja merawat dan membesarkan dan mendidik, tetapi Bapak dan Emak juga berjuang agar saya dan kakak saya bisa bersekolah untuk memersiapkan saya hidup di tengah masyarakat. Saya melihat Bapak dan Emak memiliki mimpi supaya anak-anaknya berpendidikan tinggi sehingga bisa hidup lebih layak.

Akhirnya, perjuangan kedua orang tua saya sudah menampakkan buahnya. Berkat perjuangan dan doa mereka, saat ini saya menempuh pendidikan Master di Belanda melalui sebuah beasiswa. Jika dirunut dari awal, ibarat kata pepatah, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, Bapak dan Emak telah bersusah payah agar bisa menyekolahkan anaknya, namun kini mereka menuai hasilnya. Bagi saya sebagai seorang anak, saya pun menuai hasil dari perjuangan Bapak dan Emak dan dari perjuangan belajar yang saya lakukan. Barangkali itulah yang ingin disampaikan oleh Aristoteles yang mengatakan “The roots of education are bitter, but the fruit is sweet.”

Seperti mimpi Bapak dan Emak kepada anak-anaknya, saya juga memiliki harapan dan cita-cita untuk anak-anak saya nanti. Saat ini usia saya 27 tahun 7 bulan. Saya masih kuliah dan belum menikah. Ketika saya membaca pengumuman mengenai lomba blog yang diadakan oleh BCA dengan 4 topik yang ditawarkan, yaitu kemudahan transaksi, perencanaan finansial pendidikan sang buah hati, perlindungan jiwa dan kesehatan adalah investasi dan mewujudkan hunian ideal, setelah sejenak berpikir dan merenungkan, saya tertarik dengan topik bagaimana merencanakan pendidikan sang buah hati.

Sebelum membaca pengumuman lomba yang diselenggarakan oleh BCA itu, saya belum sempat berpikir tentang perencanaan finansial pendidikan bagi buah hati saya, karena saya memang belum memiliki buah hati dan belum menikah juga. Tetapi, berkaca dari pengalaman orang tua saya dan betapa pentingnya pendidikan bagi anak, saya kemudian berkesimpulan bahwa saya perlu memersiapkan finansial bagi pendidikan anak saya nanti sedari dini, walaupun saat ini saya belum memilikinya, toh nanti saya akan memilikinya.

Saya mengikuti tweet @Safirsenduk, yang di dalam akun Twitter menulis profilnya sebagai Perencana Keuangan (CFP®), Penulis 10 Buku Keuangan, Pengasuh Rubrik Keuangan di Media Massa dan Pendiri Safir Senduk & Rekan. Pada tanggal 30 Mei 2012, Safir Senduk menuliskan Tweet yang sangat bermanfaat dan menginspirasi yaitu, “Siapkan Dana untuk Masa Depan.” Bagi saya, tweet tersebut sangat membantu mewujudkan mimpi dan rencana masa depan anak-anak saya nanti.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, perencanaan seperti apa yang harus saya buat dan lakukan? Saya mencoba merenungkannya sembari membayangkan bahwa anak-anak saya yang lucu-lucu sudah berada di dunia ini. Alangkah bahagia mereka jika ketika mereka sudah hadir bersama keluarga saya nanti, mereka sudah dipersiapkan pendidikannya. Meskipun saya belum tahu anak-anak saya nanti berminat di bidang pendidikan apa dan bercita-cita jadi apa, tapi sebagai (calon) orang tua, saya memiliki pengharapan jika mereka dapat meraih impian mereka. Saya dan istri saya nanti akan memfasilitasi anak-anak kami dalam menapaki cita-cita mereka.

Jika dihitung-hitung berdasarkan waktu, barangkali masih 2 sampai 3 tahun lagi, saya baru akan memiliki buah hati. Tetapi, saya ingin memersiapkan kebutuhan finansial pendidikan sedari sekarang sehingga saya tidak perlu kelabakan. Jika salah satu anak Bapak dan Emak saya bisa kuliah ke luar negeri melalui program beasiswa, maka anak saya nanti pun seharusnya merasakan pendidikan di luar negeri. Oleh karena itu, sedari dini, saya perlu memersiapkan dana pendidikan anak supaya dapat mengikuti pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Mengingat biaya pendidikan yang cenderung relative tinggi, maka persiapan dan perencanaan kebutuhan finansial untuk pendidikan anak menjadi sangat relevan dan penting.

Membaca pengumuman lomba blog di BCA menarik saya untuk ikut memikirkan rencana masa depan pendidikan anak-anak nanti, meskipun masih beberapa tahun lagi. Jika mencermati produk perbankan yang ditawarkan oleh BCA, saya jadi tertarik berinvestasi untuk pendidikan buah hati. Dari penjelasan yang disampaikan, setidaknya ada 4 hal mengapa investasi pendidikan anak itu penting, yaitu:

  • Berkaitan dengan perencanaan keuangan sehingga pos pengeluaran  lebih terencana dan terstruktur
  • Antisipasi kenaikan biaya pendidikan sebab hampir tiap tahun cenderung meningkat. Hal ini karena tiap-tiap jurusan memiliki biaya pendidikan yang berbeda. Maka itu, perlu dibuat perencanaan keuangan dan berinvestasi.
  • Penting juga untuk menentukan dan mengambil alternatif investasi untuk pendidikan. Orang tua perlu memilah dan memilih produk perbankan dan layanan perbankan, yang bisa menjawab kebutuhan investasi.
  • Proteksi rencana masa depan. Banyak hal tak terduga yang bisa terjadi. Oleh sebab itu, diperlukan proteksi terhadap investasi pendidikan supaya pendidikan anak tidak terganggu dengan kejadian-kejadian di luar dugaan

Sebagai calon orang tua, saya sangat tertarik dengan argumen-argumen yang disampaikan di atas. Walaupun masih beberapa tahun lagi, saya tergerak untuk memulai memikirkannya dan mencoba mencari solusi perbankan yang bisa memberikan jawaban akan investasi pendidikan bagi buah hati. Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam investasi pendidikan bagi buah hati:

  • Di mulai sejak dini. Sebagaimana yang saya pikirkan dan renungkan semula, saya hendak memulai sejak dini perencanaan finansial bagi anak saya nanti. Dengan perencanaan, maka bisa memberikan panduan dan meminimalkan kebingungan, seperti kata sebuah ungkapan, ‘If you don’t know where you want to go, you’ll never get there.
  • Mendiskusikan dan mengenali impian dan cita-cita anak. Sebagai orang tua, tugasnya adalah memandu dan membantu anak dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Mendiskusikan dengan akan, saya kira menjadi relevan sebab akan berpengaruh pada solusi perbankan dan investasi yang akan diambil.
  • Langkah berikutnya adalah menentukan target dana yang dibutuhkan dengan menghitung perkiraan kapan akan masuk sekolah, jenjang pendidikan yang akan ditempuh dan selanjutnya membuat estimasi biaya yang dibutuhkan.
  • Yang tidak kalah penting adalah menentukan sumber dana. Secara umum, saya sudah mulai menyiapkan dana untuk keperluan mendatang, dalam bentuk tabungan dan deposito. Yang perlu saya pikiran nanti setelah lulus dari kuliah adalah mengatur dana-dana tersebut, termasuk pendapatan yang akan saya perlu ketika saya diterima bekerja di sebuah organisasi. Dana pendidikan untuk anak menjadi salah satu prioritas yang perlu diatur sedemikian rupa.
  • Solusi perbankan yang ditawarkan dan digunakan hendaknya terus dimonitor setiap tahun, bagaimana tingkat bunganya, kemudahan transaksi dan apakah investasi yang ditanamkan akan memberikan kebebasan finansial yang bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga, termasuk kesehatan atau biaya pendidikan.

Itulah mimpi dan strategi yang akan saya aksikan. Sedari dini, saya sudah membiasakan diri membuat perencanaan keuangan. Lomba blog BCA mengingatkan saya supaya saya cermat dalam membuat perencanaan keuangan bagi pendidikan anak-anak saya nanti. Satu hal yang saya lihat dari Bapak dan Emak saya, pada umumnya mereka memiliki perencanaan keuangan pendidikan meskipun dalam level yang sangat sederhana. Mereka mengumpulkan uang dan menyimpannya dalam bentuk tabungan di bank yang memberi kemudahan transaksi.

Aksi dan Eksekusi

Kini pada bagian aksi. Menurut langkah-langkah merencanakan keuangan bagi anak yang sudah diuraikan di atas, saya perlu mendiskusikan dengan anak-anak menurut bakat dan minatnya dan akan masuk pada program dan universitas apa. Persoalannya adalah, saat ini saya belum memiliki anak. Tetapi, hal tersebut saya kira bukan sebuah persoalan, hanya tinggal waktu saja yang akan berbicara. Tidak ada salahnya sedari saat ini, di kala saya masih bujangan, saya mulai memikirkan pendidikan anak-anak saya.

Lantas, langkah apa yang harus saya ambil? Prinsipnya seperti Tweet yang dikirimkan oleh Safir Senduk pada 30 Mei 2012 yang lalu, siapkan dana untuk masa depan. Ya, saya sudah mulai belajar untuk menyiapkan dana (menabung) untuk masa depan. Orang tua saya mendidik supaya supaya rajin menabung. Hal itu pulalah yang akan saya latih dan didik kepada anak saya nanti. Saya menyadari bahwa kebutuhan dana pendidikan itu tidak sedikit, oleh sebab itu, saya perlu menabung dan merencanakan keuangan untuk pendidikan anak.

Pertimbangan memersiapkan dana pendidikan untuk menggapai rencana masa depan anak, selain pendidikan formal, saya juga bermaksud mendidik anak-anak saya nanti untuk terampil berbahasa Inggris sejak dini, selain tetap mengajarkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Belajar dari pengalaman saya, bahwa Bahasa Inggris itu menjadi salah satu kunci untuk sukses di pergaulan internasional. Saya termasuk terlambat belajar Bahasa Inggris, dan saya cukup menyesal karena tidak bisa belajar Bahasa Inggris sejak dini oleh karena alasan tidak ada dana. Maka itu, saya akan menyiapkan dana pendidikan bagi anak saya nanti agar bisa belajar bahasa Inggris sedari kecil.

Untuk itulah, untuk mengeksekusi mimpi dan strategi di atas, berikutnya, saya nanti harus berkonsultasi dengan lembaga keuangan, seperti BCA, yang memiliki produk dan layanan perbankan khusus untuk perencanaan keuangan bagi pendidikan anak-anak saya nanti. Dengan nama dan reputasi yang dimiliki oleh BCA, saya perlu banyak bertanya mengenai solusi perbankan yang mereka miliki sehingga saya bisa merencanakan dan menginvestasikan keuangan, termasuk untuk perencanaan finansial pendidikan anak-anak saya nanti. Dengan begitu, saya beserta keluarga bisa sama-sama mendiskusikan perencanaan keuangan pendidikan dengan pihak yang bersangkutan langsung, dalam hal ini pihak bank.

Prinsipnya, saya sangat setuju jika perencanaan keuangan bagi pendidikan anak harus dilakukan sedini mungkin sebagai cara meraih dan mewujudkan rencana masa depan. Oleh sebab itu, sejak sekarang walaupun akan-anak saya belum hadir di dunia, saya sudah menyiapkan dana demi menyekolahkan anak-anak di pendidikan formal dan non formal. Saya ingin anak-anak saya terjamin pendidikannya dan tidak perlu terlalu kuatir dengan masalah keuangan seperti yang pernah dialami saya dan orang tua saya.

Saya sangat berterima kasih kepada BCA yang telah menyelenggarakan event Berbagi Cerita bersama BCA. Event ini telah mengingatkan sekaligus menyadarkan saya untuk merencanakan keuangan, termasuk untuk perencanaan pendidikan bagi buah hati. Saya sadar bahwa saat ini buah hati saya yang lucu-lucu belum ada, tetapi tidak ada salahnya jika saya sudah memersiapkan dan merencanakan dana pendidikan untuk mereka? Saya dan istri saya nanti hanya berharap agar anak-anak kami nanti bisa mendapat pendidikan yang baik. Mereka dengan gembira bisa belajar dan menikmati hari-hari mereka di sekolah, di rumah dan di masyarakat.

Jadi anak-anakku, walaupun saat ini tidak tahu di mana saat ini kamu berada, tetapi jika waktunya nanti tiba dan kamu hadir di tengah-tengah dunia, kami (bapak dan ibumu) akan menyambutmu dengan ucapan syukur dan berbahagia. Kami sudah persiapkan segala sesuatunya sedari sekarang, sehingga ketika kamu nanti tiba dan dalam gendongan kami, kamu akan menjadi anak-anak masa depan, anak-anak yang mencintai kehidupan dan anak-anak terang yang menyinari dan memberikan keteduhan bagi umat manusia. Tomorrow is full of hope, Nak! Amin!

Gambar Ilustrasi: Virtual Village menyediakan bantuan untuk para kelompok lanjut usia; sumber gambar dari http://media.voanews.com/images/480*300/AP-old-age-happiness-24aug11-480.jpg

Laporan menarik dimuat di website VOA pada tanggal 11 Januari 2012 mengenai aksi sosial sebuah jaringan lokal sukarelawan dan  penyedia layanan untuk membantu kelompok lanjut usia yang tinggal di rumah sendiri. Berita bertajuk Organisasi Nirlaba di AS Bantu Layani Kelompok Lansia tersebut menceritakan aksi para sukarelawan dalam melayani para kelompok lanjut usia yang tergabung dalam jaringan yang bernama Virtual Village.

Ketika batang usia semakin tinggi dan anak-anak sudah berkeluarga, banyak orang tua yang sudah memasuki usia lanjut masih suka mengurus diri sendiri dan hidup mandiri. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, para lanjut usia tersebut masih beraktivitas seperti biasa walaupun ada beberapa hal yang sudah tidak bisa lagi dikerjakan sendiri. Pekerjaan yang terlihat sederhana seperti mengganti bola lampu dengan menggunakan tangga, namun bagi para kelompok lanjut usia, aktivitas itu bisa sangat membahayakan.

Berlatar belakang itulah, muncul gagasan untuk membantu para lanjut usia melalui sebuah jaringan aksi sosial. Gerakan yang dimulai di Boston 10 tahun lalu  hingga akhirnya berkembang ke 150 daerah lainnya itu menunjukkan betapa sangat mulia para sukarelawan dalam membantu para lanjut usia menapaki hari dan beraktivitas sehari-hari. Mereka membantu para lanjut usia dalam segala hal yang mereka butuhkan seperti transportasi, membawakan barang-barang ketika berbelanja atau memperbaiki rumah.

Aktivitas organisasi Virtual Village sangatlah bermanfaat, terutama untuk para kelompok lanjut usia yang tergabung di dalamnya. Sebagai contoh, di liputan VOA tersebut mengupas pengalaman Philip Theil (91 tahun ) bersama istrinya yang masih ingin hidup dan tinggal di rumah mereka sendiri di wilayah Universitas Seattle. Rumah bertingkat dua yang sudah berusia 100 tahun yang dipenuhi dengan buku-buku, karya seni dan barang-barang lain tersebutlah Theil dan istrinya ingin menghabiskan masa hidupnya. Oleh sebab faktor usia dan anak-anak mereka tinggal di kota yang jauh dari tempat tinggal mereka, maka Theil dan istrinya membutuhkan bantuan orang lain jika mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa mereka selesaikan.

Beruntung ada organisasi Virtual Village. Bentuknya bukanlah sebuah desa yang kasat mata, tetapi sebuah organisasi yang mengorgansir jaringan sukarelawan lokal dan menyediakan layanan untuk membantu kelompok lanjut usia yang ingin tetap tinggal dan beraktivitas di rumah sendiri. Thei dan istrinya adalah salah satu contoh yang merasakan manfaat Virtual Village sebab dengan keberadaan para sukarelawannya, Theil beserta istrinya dan para kelompok lanjut usia yang tergabung dalam Virtual Village bisa terbantu dan dapat beraktivitas di rumah mereka masing-masing.

Aktivitas sosial Virtual Village patut diacungi jempol. Perhatian mereka pada kelompok usia lanjut merupakan sebuah bentuk aksi sosial yang pantas diapreasiasi. Kegiatan Virtual Village menunjukkan bahwa berbagi cinta kasih kepada sesama harus dilakukan kepada siapa saja, terlebih pada kelompok lanjut usia yang kini banyak memiliki keterbatasan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

Penamaan Virtual Village (Desa Virtual) sangat tepat dengan sebuah konsep desa. Sebuah desa diidentikkan dengan sebuah wilayah kecil yang dihuni oleh para penduduk yang saling rukun dan membantu satu dengan yang lain. Di sana juga dengan mudah dapat berkomunikasi sehingga apa yang menimpa salah satu penduduknya, maka akan cepat tersebar ke penduduk lain. Demikianlah konsep Virtual Village terbangun. Melalui jejaring yang terbentuk, para sukarelawan dan kelompok lanjut usia yang tergabung dapat dengan mudah berkomunikasi sehingga bila membutuhkan pertolongan, para sukarelawan dapat dengan cepat memberikan pertolongan.

Sangat diharapkan konsep Virtual Village ini dapat tersebar dan diimplementasikan ke wilayah lain, bahkan hingga ke seluruh penjuru dunia. Dengan aktivitas sosial ini, maka menunjukkan bahwa rasa solidaritas ke sesama manusia akan tetap ada dan terus terjalin. Biarkanlah cinta kasih tersebut terus terpupuk dan terpelihara karena di mana ada cinta kasih, di sana terdapat benih-benih kebahagiaan.

Foto ilustrasi: Penguatan Pondasi Pendidikan Dasar; sumber http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1270008603/pendidikan-dasar-di-indonesia-03.jpg

Membaca berita yang diturunkan Voice of America pada tanggal 14 Desember 2011 yang bertajuk USAID Lanjutkan Bantuan bagi Pengembangan Pendidikan Dasar Indonesia membawa sebuah harapan untuk memajukan pendidikan dasar di Indonesia. Seperti diketahui bahwa salah satu Tujuan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Makna mencerdaskan berarti “membuat jadi cerdas” segenap elemen masyarakat, bangsa dan negara, tanpa terkecuali sehingga pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya dan seluruhnya dapat tercapai.

Sorotan VOA mengenai lanjutan bantuan USAID bagi pengembangan pendidikan dasar di Indonesia bertujuan sebagai salah satu cara mencapai tujuan nasional seperti yang diamanatkan Undang-Undang Dasar. Untuk itu, penguatan pendidikan dasar dibutuhkan karena pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas harus dimulai sejak dini. Pondasi pendidikan dasar di Indonesia harus diperkuat sehingga ke depan sumber daya manusia yang dihasilkan dapat berkompetisi dengan sumber daya manusia negara lain dalam arus persaingan yang semakin ketat.

Berbicara pada konteks Indonesia, salah satu tantangan yang perlu dipecahkan adalah akses terhadap pendidikan. Dengan biaya pendidikan yang semakin mahal, mengancam timbulnya angka putus sekolah pada anak-anak di tinggal pendidikan dasar. Biaya sekolah yang relatif mahal serta biaya-biaya lain berupa uang buku tulis, buku pelajaran atau seragam ditengarai sebagai penyebab tidak berdayanya para siswa mengikuti pendidikan sekolah formal. Hal tersebut dapat mempersulit anak-anak untuk mendapatkan dan melanjutkan akses pendidikan.

Tantangan lain yang perlu dipecahkan adalah mengenai standar pendidikan karena Indonesia yang memiliki keragaman wilayah, budaya serta nilai-nilai yang dianut. Hal ini memicu diskusi yang berkelanjutan tentang perlu atau tidak standarisasi pendidikan. Dengan kondisi tersebut, standarisasi pendidikan penting dilakukan, namun tetap mengakomodasi nilai-nilai kelokalan sehingga tidak mematikan budaya-budaya lokal daerah yang dianut.

Dua tantangan di atas terus menjadi bahan diskusi sebab output pendidikan dasar akan berpengaruh pada pendidikan menengah dan pendidikan tinggi serta bermuara pada mutu sumber daya manusia Indonesia. Oleh karena itulah, dengan semangat otonomi daerah,  program pertama DBE1 (Decentralized Basic Education) yang berakhir tepat pada 31 Desember 2011 dilakukan sebagai sebuah program penguatan pendidikan dasar di provinsi-provinsi di Indonesia. Dengan informasi bahwa program Decentralized Basic Education dilanjutkan, berarti masih banyak harapan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Konsekuensinya adalah perlu manajemen dan tata layanan yang terkoordinasi berdasarkan prinsip-prinsip akuntabilitas. Prinsip akuntabilitas berarti bahwa pendidikan harus dijalankan secara bertanggungjawab sesuai dengan koridor yang sudah ditentukan tanpa ada penyelewengan, misal dalam hal anggaran. Manajemen dan koordinasi tersebut harus dilakukan secara terbuka, dapat diakses dan dipantau dengan mudah oleh publik dan stakeholder pendidikan.

Walaupun program Decentralized Basic Education masih terbatas di tujuh provinsi; Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan; yang meliputi lebih dari 1.000 SD dan 196 SMP di 50 kabupaten/kota, program ini diharapkan dapat meluas hingga ke seluruh provinsi di Indonesia. Berkat program ini, kepada sekolah mendapatkan pendampingan, bisa semakin memiliki kapabilitas dalam pengelolaan sekolah yang lebih baik. Dengan pengelolaan sekolah yang lebih baik dan tertata maka akan berpengaruh positif pada prestasi peserta didik.

Dengan demikian, penguatan kelembagaan pada pendidikan dasar perlu terus dilakukan. Bila pondasi pendidikan dasar sudah terbangun kuat, maka menjadi jalan untuk tercapainya Tujuan Nasional mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk sampai ke tujuan tersebut, pengelolaan dan tata manajemen sekolah dengan menggunakan prinsip akuntabilitas sangat diperlukan agar masyarakat dan stakeholder pendidikan bisa turut berpartisipasi pada pembangunan pendidikan nasional Indonesia.

Pembangunan pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, namun telah menjadi tanggung jawab segenap elemen masyarakat dalam kesatuan berbangsa dan bernegara. Masyarakat dapat berperan serta melalui pengawasan jalannya pendidikan demi terwujudnya kualitas sumber daya manusia yang mampu berkompetisi di era globalisasi. Melalui prinsip akuntabilitas, pemerintah bersama masyarakat bisa saling bekerja sama untuk peningkatan kualitas pendidikan untuk kehidupan anak-anak bangsa yang lebih baik.

Tanggapan tulisan USAID Lanjutkan Bantuan bagi Pengembangan Pendidikan Dasar Indonesia yang dimuat pada hari Rabu tanggal 14 Desember 2011 di website Voice of Amerika.

Aziz sedang nongkrong di rumah Bang Saiful yang sekaligus difungsikan sebagai kantor agen koran. Di hari puasa kedua ini, dia hanya berjualan hingga jam 15.00 WIB. Sambil menunggu jam berbuka puasa, dia berbincang-bincang dengan 2 anak tetangga Bang Saiful, Mamat dan Joko. Kebanyakan dari mereka memiliki umur yang sama dengan Aziz.

Joko, salah seorang anak yang ada di sana bertanya, “Gimana, puasa lo lancar?”

“Kalau gue puasa hari pertama sih lancar. Kalau hari kedua ini, tinggal nunggu 3 jam lagi sudah buka!” kata Mamat dengan semangat.

“Wah, kamu hebat Mat! Kamu kelihatan segar sekali meski berpuasa!” balas Aziz.

“So pastilah Ziz. Selain berpuasa, gue juga perbanyak ibadah di bulan suci ini,” jawab Mamat dengan semangat.

Joko dan Aziz ketularan semangat dan serentak berkata, “ngapain saja?”

“Kamu banyak amal?” tanya Aziz penasaran

Mamat menggeleng. Joko pun tidak kalah penasaran, kemudian dia juga melemparkan pertanyaannya.

“Kamu banyak berdzikir? cecar Joko

Mamat pun menggeleng. “Lalu apa?” Joko dan Aziz penasaran.

“Jadi begini. Sebelum puasa, di sekolahku ada khotbah Jumat. Dalam khotbah itu disampaikan bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandaka,” jawab Mamat santai.

“Jadi, gue dua hari ini banyak tidur pas puasa. Makanya puasa gue lancar, badan gue segar dan gue juga tetap ibadah.” lanjut Mamat.

“Jadi…….lo tidur di rumah dua hari ini ndak kelihatan kalau sian? Mentang-mentang libur awal puasa lalu banyak tidur?” jawab Joko sambil geleng-geleng kepala.

“Ya demi puasa lancar!” jawab Mamat sekenanya.

“Bulan puasa jangan jadi malas Mat. Masak seharian tidur? Lo juga tidak sholat Dzuhur and sholat Azhar?” kata Aziz.

“Bagaimana mau sholat, lha gue tidur,” ujar Mamat membalas pertanyaan Aziz.

“Kalau itu mah lo jadi pemalas, bukannya ibadah. Lo lupa kerjakan sholat juga. Apa itu malahan dapat pahala?” kata Joko menimpali Mamat.

“Mat, bertobat! Minta ampun sama Allah. Besok jangan diulangi lagi ah! Masak puasa kok banyak tidur. Maksud tidurnya orang puasa itu ibadah adalah lha tidur saja ibadah, bagaimana kalau tetap beraktivitas seperti biasa? Pasti pahalanya lebih besar dan jangan sampai melupakan sholat,” kata Aziz sambil tersenyum.

“Siap Pak Ustadz Aziz!” Mamat berkata sambil memberikan hormat.

Pertemuan Singkat

Matahari bersinar terik di jalanan ibukota. Aziz masih memiliki beberapa koran yang masih belum laku. Dia mulai menawarkan koran-korannya dengan harga yang jauh lebih murah dengan harga normal. Namun, dia juga mengambil koran  harian sore untuk dijual.

Jam sudah mendekati pukul 04.00 WIB. Masih cukup lumayan untuk berkeliling menawarkan koran sambil ngabuburit menunggu waktu buka puasa. Dia sudah tidak sabar menikmati buah kurma dari Mbak Atun.

Dia kini duduk di kursi halte bus TransJakarta Central Senen. Tiba-tiba, seorang perempuan berambut sebahu duduk di sampingnya. Melihat ada calon pembeli, Aziz menawarkan korannya.

“Koran sore Mbak! Dua ribu saja!” kata Aziz kepada wanita itu.

“Ada resep-resep untuk hidangan Ramadan, seperti opor ayam, udang goreng dan lain-lainnya” tambah Aziz.

“Ah, kamu menyebut menu-menu itu mengingatkanku pada keluargaku yang ada di kampung,” balas wanita itu tampak sedih.

“Memang kenapa Mbak?” tanya Aziz penasaran.

“Ini pertama kali aku berpisah jauh dari orang tua. Bertepatan dengan Ramadan pula,”  jawabnya.

“Semalam, aku menelpon Ibuku, dan diberitahu kalau mereka masak-masak makanan yang enak, ” tambah wanita yang duduk di samping Aziz itu.

“Ohh,” Aziz mengangguk

“Mbak di Jakarta bekerja?” tanya Aziz sekenanya

“Iya. Kantorku di dekat GraPARI Telkomsel,” jawab wanita muda itu.

“Yang sabar Mbak. Tahu lagu d’Masiv kan? Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah,” kata Aziz sambil mendendangkan lagu Jangan Menyerah D’Masiv.

“Mbak nanti masih bisa mudik ketemu keluarga. Bisa makan enak bersama keluarga. Kalau saya sudah tidak ada siapa-siapa,” kata Aziz lirih.

“Tapi saya mencoba mensyukuri setiap berkah Allah,” ujar Aziz kembali bersemangat.

Wanita tersebut tampak tersenyum dan berkata, “Wah, kamu hebat. Aku harus banyak belajar darimu!”

“Ah Mbak ini bisa saja!” jawab Aziz

“Jadi, mau beli koran ini tidak?”  tanya Aziz

“Oke, saya beli satu,” lalu wanita itu memberi uang lima ribu rupiah.

“Kembaliannya buat kamu saja,”  ujar wanita itu lagi.

“Terima kasih Mbak. Alhamdulilah. Rejeki memang tidak kemana!” kata Aziz riang.

“Saya harus pergi. Itu bus yang ke arah Ancol sudah datang,” kata wanita itu sambil beranjak pergi.

“Hati-hati di jalan Mbak. Sampai ketemu lagi,” balas Aziz

Wanita itu pun masuk ke sebuah bus. Aziz kembali menjual koran-korannya sambil menunggu buka puasa.

Pagi hari adalah waktu yang tepat bagi Aziz untuk berjualan koran. Aziz sangat gesit naik-turun bus dari agen Bang Saiful di kawasan Mangga Dua ke beberapa titik-titik lampu merah dan terminal di Jakarta. Di dalam bus, Aziz beraksi menawarkan koran ke para penumpang. Walaupun mengecap bangku sekolah hanya beberapa tahun, kemampuan membaca Aziz meningkat melalui kesukaannya membaca koran.

Jika penumpang mulai penuh, dia turun sambil menawarkan korannya ke penumpang yang tengah menunggu. Walaupun puasa, Aziz tampak tetap bersemangat.

Kali ini dia naik sebuah bus yang mengantarnya ke Terminal Pasar Senen. Dengan menggunakan tas ransel merah dan bertopi, dia menawarkan koran dagangannya.

“Berita hangat hari ini, harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Nazzarudin tetap menjadi misteri setelah muncul di Skype,” teriak Aziz ke para penumpang.

Salah seorang penumpang tertarik dengan berita itu dan mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah. Setelah memberikan koran Kompas dan uang kembalian, Aziz mengucapkan terima kasih.

“Lumayan.…Penglaris!” batin Aziz.

Laju bus melambat. Dia pun bersiap-siap turun. Ketika hendak turun, tiba-tiba, ada suara orang yang berteriak.

“Copet! Blackberry saya diambil copet. Tolong!” terdengar suara seorang wanita.

Aziz yang turun dari pintu belakang bus melihat seseorang yang turun dari pintu depan sambil berlari. Orang yang berteriak itu pun ikut turun.

Aziz dan beberapa orang mendekati perempuan itu. Ada yang mencoba mengejar. Namun, pencopet telah lari jauh.

“Ya Allah, kok bisa dicuri? Padahal sudah saya masukkan dalam tas,” kata seorang wanita. Dia adalah pemilik Blackberry yang dicopet itu.

“Segera lapor ke provider dan polisi Mbak!” teriak Aziz

“Iya, saya akan ke kantor Telkomsel dan polisi untuk lapor,” kata perempuan.

“Lain kali hati-hati Mbak. Banyak copet di sini!” ujar Aziz.

“Iya Dik. Saya harus segera mengamankan beberapa hal di Blackberry itu,” lanjut wanita itu.

“Huh…baru hari pertama puasa, cobaannya sudah berat. Blackberry hilang!” wanita itu mengeluh

“Allah tidak akan tinggal diam Mbak. Nanti pasti akan nada berkah yang lain,” Aziz mencoba menjawab.

“Amin. Barangkali pencopet itu sedang butuh uang untuk membiayai sekolah anaknya,” tambah wanita itu

“Semoga Allah akan mengganti dengan i-Phone Telkomsel Mbak,” kata Aziz.

“Amin!” kata perempuan itu sambil berpamitan ke Aziz dan orang-orang yang masih berkerumun.

Kurma Untuk Aziz

1311900533225705468

Kurma Untuk Aziz

Seusai sholat Subuh, Aziz memanjatkan doa di balik tempat tinggalnya yang kecil di pinggiran Danau Sunter. Dari mata seorang anak laki-laki berusia 15 tahun itu keluar titik-titik air. Bibirnya mengucapkan syukur karena hari ini adalah hari pertama Ramadan.

“Ya Allah, Aziz ingin mendekatkan diri padaMu selama Ramadan ini” sebuah kalimat muncul dari bibirnya.

“Meski seorang diri, Aziz masih memiliki Engkau, Ya Allah!” lanjut Aziz dalam doanya.

“Aziz akan kuat karena bersamaMu…Amin!!” demikian Aziz mengakhiri doanya.

Selepas doanya, Aziz lekas membenahi peralatan sholatnya dan meletakkan di atas tempat tidurnya yang kecil. Perjuangan hidupnya yang keras, menempa diri Aziz menjadi anak yang kuat menghadapi cobaan hidup.

Hari pertama puasa, Aziz hanya makan sahur seadanya, sebungkus nasi putih dan ikan asin yang dibeli dari warteg. Tapi Aziz sangat bersyukur. Aziz tetap selalu ingat pada Sang Pencipta. Bulan Ramadan adalah bulan suci yang tidak akan pernah disia-siakan untuk beribadah.

Pagi hari saat Aziz berada di agen untuk mengambil koran, sebuah koran ibukota memuat iklan tentang kurma di halaman depan. Aziz teringat saat mendengarkan sebuah ceramah di masjid bahwa Nabi Muhammad menganjurkan berbuka puasa dengan makan buah kurma.

“Ya Allah, sayangnya, harga buah kurma mahal,” celetuk Aziz dalam hati.

Saat Aziz hendak pergi seusai berpamitan dengan bosnya, tiba-tiba ada suara yang memanggil

“Aziz, kesini sebentar! Saya minta tolong belikan voucher pulsa Telkomsel di toko Haji Sapii,” suara seorang perempuan memanggil Aziz. Dia adalah istri bosnya.

“Oke Mbak, pulsa Telkomsel yang berapa ribu?” tanya Aziz sembari menghampiri Mbak Atun.

“Seratus ribu ya! Ini uangnya!” seru Mbak Atun

Setelah menerima uang itu, Aziz pergi ke toko Haji Sapii yang berjarak 200 meter dari agen koran Bang Saiful. Sepuluh menit kemudian Aziz sudah kembali.

“Ini voucher Telkomselnya Mbak!” kata Aziz sambil menyodorkan voucher Telkomsel dan uang kembalian.

“Uangnya buat kamu saja!” seru Mbak Atun

“Terima kasih Mbak. Saya pamit, mau jualan!” kata Aziz

“Tunggu sebentar Ziz. Kamu puasakan?” tanya Mbak Atun

“Iya Mbak,” jawab Aziz

Ini ada sebungkus kurma buat kamu. Cocok untuk buka puasamu nanti,” Kata Mbak Atun menyodorkan kurma ke Aziz

Sebelum menerima kurma itu, Aziz bergumam, “Ya Allah, Engkau sangat baik. Engkau Maha Pemberi dan Pemurah.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: