Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2011

Matahari bersinar terik di jalanan ibukota. Aziz masih memiliki beberapa koran yang masih belum laku. Dia mulai menawarkan koran-korannya dengan harga yang jauh lebih murah dengan harga normal. Namun, dia juga mengambil koran  harian sore untuk dijual.

Jam sudah mendekati pukul 04.00 WIB. Masih cukup lumayan untuk berkeliling menawarkan koran sambil ngabuburit menunggu waktu buka puasa. Dia sudah tidak sabar menikmati buah kurma dari Mbak Atun.

Dia kini duduk di kursi halte bus TransJakarta Central Senen. Tiba-tiba, seorang perempuan berambut sebahu duduk di sampingnya. Melihat ada calon pembeli, Aziz menawarkan korannya.

“Koran sore Mbak! Dua ribu saja!” kata Aziz kepada wanita itu.

“Ada resep-resep untuk hidangan Ramadan, seperti opor ayam, udang goreng dan lain-lainnya” tambah Aziz.

“Ah, kamu menyebut menu-menu itu mengingatkanku pada keluargaku yang ada di kampung,” balas wanita itu tampak sedih.

“Memang kenapa Mbak?” tanya Aziz penasaran.

“Ini pertama kali aku berpisah jauh dari orang tua. Bertepatan dengan Ramadan pula,”  jawabnya.

“Semalam, aku menelpon Ibuku, dan diberitahu kalau mereka masak-masak makanan yang enak, ” tambah wanita yang duduk di samping Aziz itu.

“Ohh,” Aziz mengangguk

“Mbak di Jakarta bekerja?” tanya Aziz sekenanya

“Iya. Kantorku di dekat GraPARI Telkomsel,” jawab wanita muda itu.

“Yang sabar Mbak. Tahu lagu d’Masiv kan? Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah,” kata Aziz sambil mendendangkan lagu Jangan Menyerah D’Masiv.

“Mbak nanti masih bisa mudik ketemu keluarga. Bisa makan enak bersama keluarga. Kalau saya sudah tidak ada siapa-siapa,” kata Aziz lirih.

“Tapi saya mencoba mensyukuri setiap berkah Allah,” ujar Aziz kembali bersemangat.

Wanita tersebut tampak tersenyum dan berkata, “Wah, kamu hebat. Aku harus banyak belajar darimu!”

“Ah Mbak ini bisa saja!” jawab Aziz

“Jadi, mau beli koran ini tidak?”  tanya Aziz

“Oke, saya beli satu,” lalu wanita itu memberi uang lima ribu rupiah.

“Kembaliannya buat kamu saja,”  ujar wanita itu lagi.

“Terima kasih Mbak. Alhamdulilah. Rejeki memang tidak kemana!” kata Aziz riang.

“Saya harus pergi. Itu bus yang ke arah Ancol sudah datang,” kata wanita itu sambil beranjak pergi.

“Hati-hati di jalan Mbak. Sampai ketemu lagi,” balas Aziz

Wanita itu pun masuk ke sebuah bus. Aziz kembali menjual koran-korannya sambil menunggu buka puasa.

Advertisements

Read Full Post »

Pagi hari adalah waktu yang tepat bagi Aziz untuk berjualan koran. Aziz sangat gesit naik-turun bus dari agen Bang Saiful di kawasan Mangga Dua ke beberapa titik-titik lampu merah dan terminal di Jakarta. Di dalam bus, Aziz beraksi menawarkan koran ke para penumpang. Walaupun mengecap bangku sekolah hanya beberapa tahun, kemampuan membaca Aziz meningkat melalui kesukaannya membaca koran.

Jika penumpang mulai penuh, dia turun sambil menawarkan korannya ke penumpang yang tengah menunggu. Walaupun puasa, Aziz tampak tetap bersemangat.

Kali ini dia naik sebuah bus yang mengantarnya ke Terminal Pasar Senen. Dengan menggunakan tas ransel merah dan bertopi, dia menawarkan koran dagangannya.

“Berita hangat hari ini, harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Nazzarudin tetap menjadi misteri setelah muncul di Skype,” teriak Aziz ke para penumpang.

Salah seorang penumpang tertarik dengan berita itu dan mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah. Setelah memberikan koran Kompas dan uang kembalian, Aziz mengucapkan terima kasih.

“Lumayan.…Penglaris!” batin Aziz.

Laju bus melambat. Dia pun bersiap-siap turun. Ketika hendak turun, tiba-tiba, ada suara orang yang berteriak.

“Copet! Blackberry saya diambil copet. Tolong!” terdengar suara seorang wanita.

Aziz yang turun dari pintu belakang bus melihat seseorang yang turun dari pintu depan sambil berlari. Orang yang berteriak itu pun ikut turun.

Aziz dan beberapa orang mendekati perempuan itu. Ada yang mencoba mengejar. Namun, pencopet telah lari jauh.

“Ya Allah, kok bisa dicuri? Padahal sudah saya masukkan dalam tas,” kata seorang wanita. Dia adalah pemilik Blackberry yang dicopet itu.

“Segera lapor ke provider dan polisi Mbak!” teriak Aziz

“Iya, saya akan ke kantor Telkomsel dan polisi untuk lapor,” kata perempuan.

“Lain kali hati-hati Mbak. Banyak copet di sini!” ujar Aziz.

“Iya Dik. Saya harus segera mengamankan beberapa hal di Blackberry itu,” lanjut wanita itu.

“Huh…baru hari pertama puasa, cobaannya sudah berat. Blackberry hilang!” wanita itu mengeluh

“Allah tidak akan tinggal diam Mbak. Nanti pasti akan nada berkah yang lain,” Aziz mencoba menjawab.

“Amin. Barangkali pencopet itu sedang butuh uang untuk membiayai sekolah anaknya,” tambah wanita itu

“Semoga Allah akan mengganti dengan i-Phone Telkomsel Mbak,” kata Aziz.

“Amin!” kata perempuan itu sambil berpamitan ke Aziz dan orang-orang yang masih berkerumun.

Read Full Post »

1311900533225705468

Kurma Untuk Aziz

Seusai sholat Subuh, Aziz memanjatkan doa di balik tempat tinggalnya yang kecil di pinggiran Danau Sunter. Dari mata seorang anak laki-laki berusia 15 tahun itu keluar titik-titik air. Bibirnya mengucapkan syukur karena hari ini adalah hari pertama Ramadan.

“Ya Allah, Aziz ingin mendekatkan diri padaMu selama Ramadan ini” sebuah kalimat muncul dari bibirnya.

“Meski seorang diri, Aziz masih memiliki Engkau, Ya Allah!” lanjut Aziz dalam doanya.

“Aziz akan kuat karena bersamaMu…Amin!!” demikian Aziz mengakhiri doanya.

Selepas doanya, Aziz lekas membenahi peralatan sholatnya dan meletakkan di atas tempat tidurnya yang kecil. Perjuangan hidupnya yang keras, menempa diri Aziz menjadi anak yang kuat menghadapi cobaan hidup.

Hari pertama puasa, Aziz hanya makan sahur seadanya, sebungkus nasi putih dan ikan asin yang dibeli dari warteg. Tapi Aziz sangat bersyukur. Aziz tetap selalu ingat pada Sang Pencipta. Bulan Ramadan adalah bulan suci yang tidak akan pernah disia-siakan untuk beribadah.

Pagi hari saat Aziz berada di agen untuk mengambil koran, sebuah koran ibukota memuat iklan tentang kurma di halaman depan. Aziz teringat saat mendengarkan sebuah ceramah di masjid bahwa Nabi Muhammad menganjurkan berbuka puasa dengan makan buah kurma.

“Ya Allah, sayangnya, harga buah kurma mahal,” celetuk Aziz dalam hati.

Saat Aziz hendak pergi seusai berpamitan dengan bosnya, tiba-tiba ada suara yang memanggil

“Aziz, kesini sebentar! Saya minta tolong belikan voucher pulsa Telkomsel di toko Haji Sapii,” suara seorang perempuan memanggil Aziz. Dia adalah istri bosnya.

“Oke Mbak, pulsa Telkomsel yang berapa ribu?” tanya Aziz sembari menghampiri Mbak Atun.

“Seratus ribu ya! Ini uangnya!” seru Mbak Atun

Setelah menerima uang itu, Aziz pergi ke toko Haji Sapii yang berjarak 200 meter dari agen koran Bang Saiful. Sepuluh menit kemudian Aziz sudah kembali.

“Ini voucher Telkomselnya Mbak!” kata Aziz sambil menyodorkan voucher Telkomsel dan uang kembalian.

“Uangnya buat kamu saja!” seru Mbak Atun

“Terima kasih Mbak. Saya pamit, mau jualan!” kata Aziz

“Tunggu sebentar Ziz. Kamu puasakan?” tanya Mbak Atun

“Iya Mbak,” jawab Aziz

Ini ada sebungkus kurma buat kamu. Cocok untuk buka puasamu nanti,” Kata Mbak Atun menyodorkan kurma ke Aziz

Sebelum menerima kurma itu, Aziz bergumam, “Ya Allah, Engkau sangat baik. Engkau Maha Pemberi dan Pemurah.”

Read Full Post »

%d bloggers like this: