Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2012

Aksi Sosial Desa Virtual

Gambar Ilustrasi: Virtual Village menyediakan bantuan untuk para kelompok lanjut usia; sumber gambar dari http://media.voanews.com/images/480*300/AP-old-age-happiness-24aug11-480.jpg

Laporan menarik dimuat di website VOA pada tanggal 11 Januari 2012 mengenai aksi sosial sebuah jaringan lokal sukarelawan dan  penyedia layanan untuk membantu kelompok lanjut usia yang tinggal di rumah sendiri. Berita bertajuk Organisasi Nirlaba di AS Bantu Layani Kelompok Lansia tersebut menceritakan aksi para sukarelawan dalam melayani para kelompok lanjut usia yang tergabung dalam jaringan yang bernama Virtual Village.

Ketika batang usia semakin tinggi dan anak-anak sudah berkeluarga, banyak orang tua yang sudah memasuki usia lanjut masih suka mengurus diri sendiri dan hidup mandiri. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, para lanjut usia tersebut masih beraktivitas seperti biasa walaupun ada beberapa hal yang sudah tidak bisa lagi dikerjakan sendiri. Pekerjaan yang terlihat sederhana seperti mengganti bola lampu dengan menggunakan tangga, namun bagi para kelompok lanjut usia, aktivitas itu bisa sangat membahayakan.

Berlatar belakang itulah, muncul gagasan untuk membantu para lanjut usia melalui sebuah jaringan aksi sosial. Gerakan yang dimulai di Boston 10 tahun lalu  hingga akhirnya berkembang ke 150 daerah lainnya itu menunjukkan betapa sangat mulia para sukarelawan dalam membantu para lanjut usia menapaki hari dan beraktivitas sehari-hari. Mereka membantu para lanjut usia dalam segala hal yang mereka butuhkan seperti transportasi, membawakan barang-barang ketika berbelanja atau memperbaiki rumah.

Aktivitas organisasi Virtual Village sangatlah bermanfaat, terutama untuk para kelompok lanjut usia yang tergabung di dalamnya. Sebagai contoh, di liputan VOA tersebut mengupas pengalaman Philip Theil (91 tahun ) bersama istrinya yang masih ingin hidup dan tinggal di rumah mereka sendiri di wilayah Universitas Seattle. Rumah bertingkat dua yang sudah berusia 100 tahun yang dipenuhi dengan buku-buku, karya seni dan barang-barang lain tersebutlah Theil dan istrinya ingin menghabiskan masa hidupnya. Oleh sebab faktor usia dan anak-anak mereka tinggal di kota yang jauh dari tempat tinggal mereka, maka Theil dan istrinya membutuhkan bantuan orang lain jika mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa mereka selesaikan.

Beruntung ada organisasi Virtual Village. Bentuknya bukanlah sebuah desa yang kasat mata, tetapi sebuah organisasi yang mengorgansir jaringan sukarelawan lokal dan menyediakan layanan untuk membantu kelompok lanjut usia yang ingin tetap tinggal dan beraktivitas di rumah sendiri. Thei dan istrinya adalah salah satu contoh yang merasakan manfaat Virtual Village sebab dengan keberadaan para sukarelawannya, Theil beserta istrinya dan para kelompok lanjut usia yang tergabung dalam Virtual Village bisa terbantu dan dapat beraktivitas di rumah mereka masing-masing.

Aktivitas sosial Virtual Village patut diacungi jempol. Perhatian mereka pada kelompok usia lanjut merupakan sebuah bentuk aksi sosial yang pantas diapreasiasi. Kegiatan Virtual Village menunjukkan bahwa berbagi cinta kasih kepada sesama harus dilakukan kepada siapa saja, terlebih pada kelompok lanjut usia yang kini banyak memiliki keterbatasan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari.

Penamaan Virtual Village (Desa Virtual) sangat tepat dengan sebuah konsep desa. Sebuah desa diidentikkan dengan sebuah wilayah kecil yang dihuni oleh para penduduk yang saling rukun dan membantu satu dengan yang lain. Di sana juga dengan mudah dapat berkomunikasi sehingga apa yang menimpa salah satu penduduknya, maka akan cepat tersebar ke penduduk lain. Demikianlah konsep Virtual Village terbangun. Melalui jejaring yang terbentuk, para sukarelawan dan kelompok lanjut usia yang tergabung dapat dengan mudah berkomunikasi sehingga bila membutuhkan pertolongan, para sukarelawan dapat dengan cepat memberikan pertolongan.

Sangat diharapkan konsep Virtual Village ini dapat tersebar dan diimplementasikan ke wilayah lain, bahkan hingga ke seluruh penjuru dunia. Dengan aktivitas sosial ini, maka menunjukkan bahwa rasa solidaritas ke sesama manusia akan tetap ada dan terus terjalin. Biarkanlah cinta kasih tersebut terus terpupuk dan terpelihara karena di mana ada cinta kasih, di sana terdapat benih-benih kebahagiaan.

Read Full Post »

%d bloggers like this: