Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Mimpi Keluarga’ Category

Indahnya kehidupan. Foto ilustrasi bunga di Keukenhof, Belanda

Tomorrow is full of hope

Those who educate children well are more to be honored than parents, for these gave only life, those the art of living well. (Aristotle)

Kutipan di atas begitu sangat menyentuh hati saya. Tatkala membacanya secara perlahan dan menjiwai, saya teringat dengan Bapak dan Emak saya, yang dalam segala kekurangan pengetahuan dan harta benda, namun memiliki mimpi untuk menyekolahkan saya dan kakak saya ke jenjang pendidikan tinggi. Di samping pendidikan formal, Bapak dan Emak juga memberikan pendidikan moral dan agama sebagai bekal kehidupan di masa depan bagi-anaknya sebab hari esok akan penuh dengan pengharapan.

Pendidikan itu penting, oleh karena itulah, orang tua saya menyekolahkan saya. Melalui sekolah, saya menjadi tahu dan paham berbagai ilmu dan pengetahuan. Kutipan dari Jean Jacques Rousseau berikut ini semakin memantapkan keyakinan saya bahwa pendidikan soko guru yang kuat bagi tumbuh dan berkembangnya seorang manusia. Melalui pendidikan pulalah, karakter dan cara berpikir seseorang terbentuk.

Plants are shaped by cultivation and men by education. .. We are born weak, we need strength; we are born totally unprovided, we need aid; we are born stupid, we need judgment. Everything we do not have at our birth and which we need when we are grown is given us by education.
(Jean Jacques Rousseau)

Saya perlu bersyukur dan berterima kasih bahwa saya dibesarkan di tengah keluarga yang tahu akan arti sebuah pendidikan. Berkat kegigihan Bapak dan Emak saya, saya bisa merasakan jenjang pendidikan formal dari Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Padahal jika dipikir secara logika manusia, Bapak saya yang bekerja sebagai seorang tukang sampah yang kini sudah pensiun karena faktor usia dan Emak saya yang berjualan pecel, menyekolahkan anak dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bapak dan Emak perlu memeras keringat guna mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk kebutuhan keluarga, termasuk sekolah. Hebatnya, mereka bisa.

Semangat Bapak dan Emak itu yang akan selalu menjadi inspirasi saya ketika nanti saya memiliki anak. Perjuangan mereka yang begitu sangat luar biasa telah mengantar saya menapaki jenjang-jenjang pendidikan hingga bisa menjadi bekal untuk mengarungi samudra kehidupan. Meskipun saat ini saya belum nikah, belajar dari Bapak dan Emak, saya perlu memikirkan dan merencanakan sejak dini pendidikan bagi anak-anak saya nanti. Saya bermimpi supaya anak-anak buah hati kami, bisa menikmati pendidikan yang layak sehingga mereka bisa menggapai mimpi-mimpi dan cita-cita mereka. Tomorrow is full of hope.

Dari Mimpi Menuju Strategi

Nama saya Winarto. Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya memiliki orang tua yang sangat luar biasa. Mereka tidak saja merawat dan membesarkan dan mendidik, tetapi Bapak dan Emak juga berjuang agar saya dan kakak saya bisa bersekolah untuk memersiapkan saya hidup di tengah masyarakat. Saya melihat Bapak dan Emak memiliki mimpi supaya anak-anaknya berpendidikan tinggi sehingga bisa hidup lebih layak.

Akhirnya, perjuangan kedua orang tua saya sudah menampakkan buahnya. Berkat perjuangan dan doa mereka, saat ini saya menempuh pendidikan Master di Belanda melalui sebuah beasiswa. Jika dirunut dari awal, ibarat kata pepatah, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, Bapak dan Emak telah bersusah payah agar bisa menyekolahkan anaknya, namun kini mereka menuai hasilnya. Bagi saya sebagai seorang anak, saya pun menuai hasil dari perjuangan Bapak dan Emak dan dari perjuangan belajar yang saya lakukan. Barangkali itulah yang ingin disampaikan oleh Aristoteles yang mengatakan “The roots of education are bitter, but the fruit is sweet.”

Seperti mimpi Bapak dan Emak kepada anak-anaknya, saya juga memiliki harapan dan cita-cita untuk anak-anak saya nanti. Saat ini usia saya 27 tahun 7 bulan. Saya masih kuliah dan belum menikah. Ketika saya membaca pengumuman mengenai lomba blog yang diadakan oleh BCA dengan 4 topik yang ditawarkan, yaitu kemudahan transaksi, perencanaan finansial pendidikan sang buah hati, perlindungan jiwa dan kesehatan adalah investasi dan mewujudkan hunian ideal, setelah sejenak berpikir dan merenungkan, saya tertarik dengan topik bagaimana merencanakan pendidikan sang buah hati.

Sebelum membaca pengumuman lomba yang diselenggarakan oleh BCA itu, saya belum sempat berpikir tentang perencanaan finansial pendidikan bagi buah hati saya, karena saya memang belum memiliki buah hati dan belum menikah juga. Tetapi, berkaca dari pengalaman orang tua saya dan betapa pentingnya pendidikan bagi anak, saya kemudian berkesimpulan bahwa saya perlu memersiapkan finansial bagi pendidikan anak saya nanti sedari dini, walaupun saat ini saya belum memilikinya, toh nanti saya akan memilikinya.

Saya mengikuti tweet @Safirsenduk, yang di dalam akun Twitter menulis profilnya sebagai Perencana Keuangan (CFP®), Penulis 10 Buku Keuangan, Pengasuh Rubrik Keuangan di Media Massa dan Pendiri Safir Senduk & Rekan. Pada tanggal 30 Mei 2012, Safir Senduk menuliskan Tweet yang sangat bermanfaat dan menginspirasi yaitu, “Siapkan Dana untuk Masa Depan.” Bagi saya, tweet tersebut sangat membantu mewujudkan mimpi dan rencana masa depan anak-anak saya nanti.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, perencanaan seperti apa yang harus saya buat dan lakukan? Saya mencoba merenungkannya sembari membayangkan bahwa anak-anak saya yang lucu-lucu sudah berada di dunia ini. Alangkah bahagia mereka jika ketika mereka sudah hadir bersama keluarga saya nanti, mereka sudah dipersiapkan pendidikannya. Meskipun saya belum tahu anak-anak saya nanti berminat di bidang pendidikan apa dan bercita-cita jadi apa, tapi sebagai (calon) orang tua, saya memiliki pengharapan jika mereka dapat meraih impian mereka. Saya dan istri saya nanti akan memfasilitasi anak-anak kami dalam menapaki cita-cita mereka.

Jika dihitung-hitung berdasarkan waktu, barangkali masih 2 sampai 3 tahun lagi, saya baru akan memiliki buah hati. Tetapi, saya ingin memersiapkan kebutuhan finansial pendidikan sedari sekarang sehingga saya tidak perlu kelabakan. Jika salah satu anak Bapak dan Emak saya bisa kuliah ke luar negeri melalui program beasiswa, maka anak saya nanti pun seharusnya merasakan pendidikan di luar negeri. Oleh karena itu, sedari dini, saya perlu memersiapkan dana pendidikan anak supaya dapat mengikuti pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Mengingat biaya pendidikan yang cenderung relative tinggi, maka persiapan dan perencanaan kebutuhan finansial untuk pendidikan anak menjadi sangat relevan dan penting.

Membaca pengumuman lomba blog di BCA menarik saya untuk ikut memikirkan rencana masa depan pendidikan anak-anak nanti, meskipun masih beberapa tahun lagi. Jika mencermati produk perbankan yang ditawarkan oleh BCA, saya jadi tertarik berinvestasi untuk pendidikan buah hati. Dari penjelasan yang disampaikan, setidaknya ada 4 hal mengapa investasi pendidikan anak itu penting, yaitu:

  • Berkaitan dengan perencanaan keuangan sehingga pos pengeluaran  lebih terencana dan terstruktur
  • Antisipasi kenaikan biaya pendidikan sebab hampir tiap tahun cenderung meningkat. Hal ini karena tiap-tiap jurusan memiliki biaya pendidikan yang berbeda. Maka itu, perlu dibuat perencanaan keuangan dan berinvestasi.
  • Penting juga untuk menentukan dan mengambil alternatif investasi untuk pendidikan. Orang tua perlu memilah dan memilih produk perbankan dan layanan perbankan, yang bisa menjawab kebutuhan investasi.
  • Proteksi rencana masa depan. Banyak hal tak terduga yang bisa terjadi. Oleh sebab itu, diperlukan proteksi terhadap investasi pendidikan supaya pendidikan anak tidak terganggu dengan kejadian-kejadian di luar dugaan

Sebagai calon orang tua, saya sangat tertarik dengan argumen-argumen yang disampaikan di atas. Walaupun masih beberapa tahun lagi, saya tergerak untuk memulai memikirkannya dan mencoba mencari solusi perbankan yang bisa memberikan jawaban akan investasi pendidikan bagi buah hati. Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam investasi pendidikan bagi buah hati:

  • Di mulai sejak dini. Sebagaimana yang saya pikirkan dan renungkan semula, saya hendak memulai sejak dini perencanaan finansial bagi anak saya nanti. Dengan perencanaan, maka bisa memberikan panduan dan meminimalkan kebingungan, seperti kata sebuah ungkapan, ‘If you don’t know where you want to go, you’ll never get there.
  • Mendiskusikan dan mengenali impian dan cita-cita anak. Sebagai orang tua, tugasnya adalah memandu dan membantu anak dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Mendiskusikan dengan akan, saya kira menjadi relevan sebab akan berpengaruh pada solusi perbankan dan investasi yang akan diambil.
  • Langkah berikutnya adalah menentukan target dana yang dibutuhkan dengan menghitung perkiraan kapan akan masuk sekolah, jenjang pendidikan yang akan ditempuh dan selanjutnya membuat estimasi biaya yang dibutuhkan.
  • Yang tidak kalah penting adalah menentukan sumber dana. Secara umum, saya sudah mulai menyiapkan dana untuk keperluan mendatang, dalam bentuk tabungan dan deposito. Yang perlu saya pikiran nanti setelah lulus dari kuliah adalah mengatur dana-dana tersebut, termasuk pendapatan yang akan saya perlu ketika saya diterima bekerja di sebuah organisasi. Dana pendidikan untuk anak menjadi salah satu prioritas yang perlu diatur sedemikian rupa.
  • Solusi perbankan yang ditawarkan dan digunakan hendaknya terus dimonitor setiap tahun, bagaimana tingkat bunganya, kemudahan transaksi dan apakah investasi yang ditanamkan akan memberikan kebebasan finansial yang bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga, termasuk kesehatan atau biaya pendidikan.

Itulah mimpi dan strategi yang akan saya aksikan. Sedari dini, saya sudah membiasakan diri membuat perencanaan keuangan. Lomba blog BCA mengingatkan saya supaya saya cermat dalam membuat perencanaan keuangan bagi pendidikan anak-anak saya nanti. Satu hal yang saya lihat dari Bapak dan Emak saya, pada umumnya mereka memiliki perencanaan keuangan pendidikan meskipun dalam level yang sangat sederhana. Mereka mengumpulkan uang dan menyimpannya dalam bentuk tabungan di bank yang memberi kemudahan transaksi.

Aksi dan Eksekusi

Kini pada bagian aksi. Menurut langkah-langkah merencanakan keuangan bagi anak yang sudah diuraikan di atas, saya perlu mendiskusikan dengan anak-anak menurut bakat dan minatnya dan akan masuk pada program dan universitas apa. Persoalannya adalah, saat ini saya belum memiliki anak. Tetapi, hal tersebut saya kira bukan sebuah persoalan, hanya tinggal waktu saja yang akan berbicara. Tidak ada salahnya sedari saat ini, di kala saya masih bujangan, saya mulai memikirkan pendidikan anak-anak saya.

Lantas, langkah apa yang harus saya ambil? Prinsipnya seperti Tweet yang dikirimkan oleh Safir Senduk pada 30 Mei 2012 yang lalu, siapkan dana untuk masa depan. Ya, saya sudah mulai belajar untuk menyiapkan dana (menabung) untuk masa depan. Orang tua saya mendidik supaya supaya rajin menabung. Hal itu pulalah yang akan saya latih dan didik kepada anak saya nanti. Saya menyadari bahwa kebutuhan dana pendidikan itu tidak sedikit, oleh sebab itu, saya perlu menabung dan merencanakan keuangan untuk pendidikan anak.

Pertimbangan memersiapkan dana pendidikan untuk menggapai rencana masa depan anak, selain pendidikan formal, saya juga bermaksud mendidik anak-anak saya nanti untuk terampil berbahasa Inggris sejak dini, selain tetap mengajarkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Belajar dari pengalaman saya, bahwa Bahasa Inggris itu menjadi salah satu kunci untuk sukses di pergaulan internasional. Saya termasuk terlambat belajar Bahasa Inggris, dan saya cukup menyesal karena tidak bisa belajar Bahasa Inggris sejak dini oleh karena alasan tidak ada dana. Maka itu, saya akan menyiapkan dana pendidikan bagi anak saya nanti agar bisa belajar bahasa Inggris sedari kecil.

Untuk itulah, untuk mengeksekusi mimpi dan strategi di atas, berikutnya, saya nanti harus berkonsultasi dengan lembaga keuangan, seperti BCA, yang memiliki produk dan layanan perbankan khusus untuk perencanaan keuangan bagi pendidikan anak-anak saya nanti. Dengan nama dan reputasi yang dimiliki oleh BCA, saya perlu banyak bertanya mengenai solusi perbankan yang mereka miliki sehingga saya bisa merencanakan dan menginvestasikan keuangan, termasuk untuk perencanaan finansial pendidikan anak-anak saya nanti. Dengan begitu, saya beserta keluarga bisa sama-sama mendiskusikan perencanaan keuangan pendidikan dengan pihak yang bersangkutan langsung, dalam hal ini pihak bank.

Prinsipnya, saya sangat setuju jika perencanaan keuangan bagi pendidikan anak harus dilakukan sedini mungkin sebagai cara meraih dan mewujudkan rencana masa depan. Oleh sebab itu, sejak sekarang walaupun akan-anak saya belum hadir di dunia, saya sudah menyiapkan dana demi menyekolahkan anak-anak di pendidikan formal dan non formal. Saya ingin anak-anak saya terjamin pendidikannya dan tidak perlu terlalu kuatir dengan masalah keuangan seperti yang pernah dialami saya dan orang tua saya.

Saya sangat berterima kasih kepada BCA yang telah menyelenggarakan event Berbagi Cerita bersama BCA. Event ini telah mengingatkan sekaligus menyadarkan saya untuk merencanakan keuangan, termasuk untuk perencanaan pendidikan bagi buah hati. Saya sadar bahwa saat ini buah hati saya yang lucu-lucu belum ada, tetapi tidak ada salahnya jika saya sudah memersiapkan dan merencanakan dana pendidikan untuk mereka? Saya dan istri saya nanti hanya berharap agar anak-anak kami nanti bisa mendapat pendidikan yang baik. Mereka dengan gembira bisa belajar dan menikmati hari-hari mereka di sekolah, di rumah dan di masyarakat.

Jadi anak-anakku, walaupun saat ini tidak tahu di mana saat ini kamu berada, tetapi jika waktunya nanti tiba dan kamu hadir di tengah-tengah dunia, kami (bapak dan ibumu) akan menyambutmu dengan ucapan syukur dan berbahagia. Kami sudah persiapkan segala sesuatunya sedari sekarang, sehingga ketika kamu nanti tiba dan dalam gendongan kami, kamu akan menjadi anak-anak masa depan, anak-anak yang mencintai kehidupan dan anak-anak terang yang menyinari dan memberikan keteduhan bagi umat manusia. Tomorrow is full of hope, Nak! Amin!

Read Full Post »

%d bloggers like this: